Tua Sebelum Waktunya Karena Cita-cita Orang Tua
Nyaris tanpa ada motivasi ketika KH M. Rosyad Imam menginjakkan kaki di tanah Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) pada akhir November 1973. “Hanya meneruskan cita-cita orang tua. Karena oleh orang tua dipondokkan, ya saya mondok” tutur pria kelahiran Pemekasan tahun I965 ini.
Demikian itu karena ketika berangkat mondok, Ra Rosyad -demikian ia biasa dipanggil- masih berumur 8 tahun. Artinya, belum menyadari bahwa ke Sidogiri adalah untuk belajar agama. Walau demikian, bukan berarti ia lemah dalam belajar. Bahkan, ia tumbuh dengan semangat belajar cukup tinggi.
Terbukti, jika di akhir 70-an ada seorang anak kecil seumuran 10 tahun di antara kerumunan santri yang mengaji Tafsir Jalalain kepada Hadratussyekh KH Abd. ‘Alim Abd. Djalil - Pengasuh PPS saat itu -maka dialah Ra Rosyad. Hal ini cukup ganjil, mengingat bahwa mengikuti pengajian kitab-kitab yang cukup berat pada Kiai, waktu itu hanya diwajibkan pada santri kelas satu Tsanawiah ke atas. Namun ia bergeming, tak peduli dengan tatapan teman-temannya, tegar dalam keinginan meraih ilmu sebanyak-banyaknya.
Ketika Hadratussyekh KH A. Nawawi Abd. DjaIiI - saat ini Pengasuh PPS - membuka pengajian kitab lbnu 'Aqil, saat itu Ra Rosyad tidak ketinggalan mengikutinya bersama teman-teman lain. Dari mengaji Ibnu 'Aqil pada Kiai inilah, ia merasakan ada futuh dengan terbukanya hati tentang ilmu Nahwu. Tak heran jika ia tidak bergerak sama sekali selama pengajian Kiai Nawawi sejak pukul 7 sampai 1 malam. Padahal mayoritas teman ngajinya tak kuat menahan kantuk. Demikian kesaksian Ust. H. Baihaqi Juri, temannya yang juga mengaji ketika itu.
Keunikan lain pada diri putra sulung pasangan KH M. Imam Rosyad dan Ny. Maushufah itu adalah kegemarannya pada buku-buku umum. “Dulu, walaupun perpustakaan (Perpustakaan Sidogiri, red) belum sempurna, saya sudah kutu buku.
Mungkin di antara seangkatan saya, yang banyak membaca buku-buku umum itu adalah saya. Bukan baca kitab, tapi baca buku. Baru kalau sudah tidak menemukan buku atau koran, saya baca kitab,” kenangnya.
Ia mengakui, kegemarannya ini tidak lepas dari materi pelajaran yang ia sukai, yakni sejarah. Konon, ketika itu, ia dapat menghafal pelajaran Tarikh al-lslami (Sejarah lslam) di luar kepala. la menyayangkan pada masa mondoknya Perpustakaan Sidogiri belum sempurna seperti sekarang. Andaikan dulu perpustakaan seperti sekarang, mungkin akan lebih maksimal untuk belajar. Selain itu, ia juga belajar ilmu Faraid secara khusus pada Ust. H Bandi Yasin, yaitu salah satu bidang ilmu agama yang sudah mulai ditinggalkan oleh umat Islam.
Di antara yang paling banyak menguntungkan dalam pengembaraan keilmuannya adalah mengajar. Menurutnya, dengan mengajar ia dapat mengasah kemampuan sekaligus menyerap ilmu dari kitab yang dibaca. Pada prinsipnya, dengan mengajar dapat menggali ilmu dengan dalam. Umpama ada kendala, bisa tanya pada yang lebih mengerti. Dengan prinsipnya ini, ia sangat senang membuka pengajian di ]erambah-jerambah Daerah (asrama) sebagaimana guru lain.
Tidak hanya dalam bidang pengajaran, di Sidogiri Ra Rosyad juga bergelut dengan berbagai organisasi dan instansi. Tercatat ia pernah menjadi ketua IKSMA (Ikatan Santri Madura), kepala Tahsinul Khat, dan kepala Kuliah Syariah. Jabatan terakhir ia pangku sampai boyong pada tahun 1989.
Kembali Ke Tanah Kelahiran Untuk Syi'arkan Islam
Berangkat ke Sidogiri dengan motivasi meneruskan cita-cita orang tua, maka alasan boyongpun dari Sidogiri juga karena untuk meneruskan cita-cita orang tua. Karena ayahnya - KH Imam Rosyad - berpulang ke Rahmatullah, otomatis sebagai putra sulung dari enam bersaudara, Ra Rosyad dituntut untuk menjadi tua sebelum waktunya, sebagai kepala keluarga dan penerus perjuangan abahnya dalam memangku pesantren. Padahal waktu itu ia berumur 24 tahun.
Di masyarakat, selain sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Todungih As-salafi, Todungih Pangbatok Proppo Pamekasan, ia juga terjun ke berbagai organisasi di Pamekasan, baik yang bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, maupun sosial. Dengan bekal pengalaman berorganisasi di PPS, ia masuk ke berbagai organisasi, mulai dari PC NU Pamekasan khususnya di Lembaga Bahtsul Masail (LBM), IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) Pamekasan, sampai ketua Ikatan Keluarga Batu Ampar. Selain itu, ia menjadi ketua Ittihadul Madaris, organisasi yang bergerak di bidang pendidikan beranggotakan 32 madrasah yang tersebar di kabupaten Sampang dan Pamekasan.
Kunci keberhasilan dari kesuksesan dalam berorganisasi, menurutnya adalah istikamah dan tanpa pamrih. Artinya, kontinu dalam berjuang dan tidak mengharapkan apa pun. “Jangankan uang, mencari nama pun jangan,” tegas pria yang berpenampilan bersahaja ini.
Saat ini, pesantren yang ia kelola tetap salaf, tanpa memasukkan materi pelajaran umum sama sekali. Untuk menyiasati perkembangan zaman, ia berkeinginan untuk mengikuti metode yang dikembangkan di PPS. “Kalau saya mampu, akan mengikuti metode di Sidogiri. Artinya. ilmu umum tidak diajarkan namun perpustakaan dibuka bebas,” ungkapnya.
M. Masyhuri Mochtar/BS
Sumber : Buletin Sidogiri Edisi 29 Bulan Shafar 1429 H.